MEMAHAMI KIPRAH DAN SERANGAN ZIONIS

Oleh : Dr. Adian Husaini, MA,

Disampaikan dalam Daurah Palestina Spirit of Aqsa (12/11/2017)

Pada tahun 2003, saat Intifada kedua sedang berkobar, muncul wacana Roadmap for Peace, sebuah rencana untuk menyelesaikan konflik Israel-Palestina yang diajukan oleh beberapa pihak di Timur Tengah, yaitu: Amerika Serikat, Uni Eropa, Rusia dan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Prinsipdari rencana tersebut, awalnya dipaparkan oleh Presiden AS George W.Bush dalam sebuah pidato pada tanggal 24 Juni 2002, di mana dia mengusulkan sebuah negara Palestina merdeka yang tinggal berdampingan dengan Israel di damai. Proses dari Roadmap ini mencapai jalan buntu di tahap awal dan rencana tersebut tidak pernah dilaksanakan.

Roadmap for Peace ini, sebenarnya sejak awal ditentang kalangan Yahudi garis keras dan kelompok Kristen sayap kanan di Amerika sendiri. Intinya, rencana pendirian negara Palestina pada 2005, dengan berbagai konsesinya itu, dianggap sebagai bencana bagi Israel. Pada awal Mei 2003, Israel mengirimkan tim lobi khusus ke AS untuk menggagalkan Roadmap. Diantaranya adalah Menteri Pariwisata Israel Benny Elon yang menyatakan, bahwa
Roadmap adalah “ a disaster for Israel,” dan ancaman bagi eksistensi negara Yahudi itu.

Di AS, para pelobi Israel ini dilaporkan telah melakukan serangkaian pertemuan dengan apa yang disebut sebagai evangelist preachers who are known for their support for Israel and their hawkish lines”, yaitu kelompok misionaris Kristen yang dikenal luas sebagai pendukung Israel dan kelompok garis keras di Amerika. Koran Haaretz saat itu menulis berita ini: “ Given that the right-wing Christian support for U.S. President George W. Bush is considered a crucial element for his re-election, Eilon’s campaign could prove to be significant in the long run.” Intinya, para pelobi ini mengancam Bush, jika masih meneruskan Roadmap, maka nasibnya akan terancam pada pemilihan Presiden mendatang, karena dukungan kelompok Kristen sayap kanan sangatlah signifikan  terhadap Bush.

Di AS, para pelobi Yahudi ini tidak menemui pejabat pemerintah AS. Mereka hanya melobi anggota Kongres untuk menekan pemerintah AS. Misi itu sukses. Sejumlah 313 anggota Kongres menandatangani petisi kepada Presiden Bush: agar jangan merugikan Israel dalam penerapan Roadmap(not to harm Israel during implementation of the road map). Petisi yang dimotori congressmen Tom Lantos, Roy Blunt, Stenny Hoyner and Henry Hyde, itu juga menegaskan dukungan terhadap Roadmap, tetapi dengan syarat yang sangat jelas: Mereka mendukung intervensi AS dalam konsep “solusi dua-negara” (two-state solution), tetapi memperingatkan pemerintah AS, agar jangan menuntut terlalu banyak kepada Israel, sebelum Palestina melaksanakan kewajibannya. (not to make too many demands on Israel before the Palestinians do their part).

Sharon sendiri ketika itu ‘terpaksa’ setuju dengan Roadmap, meskipun ia harus melawan konvensi Partai Likud yang menyatakan, bahwa Palestina adalah negeri yang dijanjikan buat Yahudi, dan orang Arab tidak berhak tinggal di sana. Sampai tahun 1993, Sharon masih mengusulkan dalam Konvensi Partai Lukud, agar Israel secara resmi menetapkan batas wilayahnya berdasarkan Bible (Biblical borders).

Padahal, kaum maximalist di kalangan Zionis menetapkan ‘batas-batas Biblical’ itu meliputi wilayah Palestina, Sinai, Jordan, Lebanon, dan sebagian Turki. Klaim ini mereka
dasarkan pada sejumlah ayat dalam Bible, dimana Tuhan berfirman kepada Abraham: “Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu.” (Kitab Kejadian, 12:7). Oleh kaum Yahudi, negeri yang disebut dalam Bible itu lalu dijadikan dasar untuk mengklaimnya sebagai” Tanah yang Dijanjikan” (The Promised Land). Kitab  Kejadian 15:18 menyebutkan: Pada hari itulah Tuhan mengadakan perjanjian dengan Abram serta berfirman: “Kepada keturunanmulah Kuberikan negeri ini, mulai dari Sungai Mesir sampai ke sungai yang besar itu, sungai Efrat.”

Kitab Yosua 21:43 menyebutkan: “Jadi seluruh negeri itu diberikan Tuhan kepada orang Israel, yakni negeri yang dijanjikan-Nya dengan bersumpah untuk diberikan kepada
nenek moyang mereka. Mereka menduduki negeri itu dan menetap di sana.” Oleh kaum Zionis, teks-teks Bible semacam ini dijadikan rujukan untuk menguasai Palestina.

Israel Negara Sekuler?

Pendudukan Zionis Israel atas Palestina dan pelestarian pengusiran bangsa Palestina dari tanah airnya, telah menjadi sumber penting terciptanya konflik-konflik internasional, khususnya antara Muslim dengan Yahudi. Ironisnya, kelompok Kristen fundamentalis kemudian memberikan dukungan terhadap pendudukan Israel tersebut, dengan menggunakan legitimasi ayat-ayat Bible juga. Kalangan Kristen fundamentalis yang mendukung pendudukan Israel dan membenarkan hak historis Israel atas Palestina bisanya menggunakan dalil Bible Kitab Kejadian 12:3: “Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.”

Padahal, negara Israel, adalah negara sekuler. Gerakan Zionis yang dipelopori oleh Theodore Herzl adalah gerakan sekuler yang mengeksploitasi ayat-ayat Bible untuk tujuan
politik mereka. Zionisme modern tak lebih dari satu fotokapi dari gerakan nasionalisme Eropa yang marak pada abad ke-19. Namun, menurut Roger Garaudy, pendirian negara Israel juga merupakan hasil rekayasa kolonialisme Barat, sehingga kini – karena masih dibutuhkan oleh
Barat — terus dipertahankan eksistensinya oleh negara-negara Barat.

Kata Roger Garaudy: “Sebenarnya Israel bukan saja merupakan perwakilan bagi kepentingan kolektif kolonialisme Barat di Timur Tengah — khususnya Amerika Serikat — melainkan juga sebagai keping utama dalam hubungan antar kekuatan pada percaturan politik
dunia.” (Lihat buku Roger Garaudy berjudul Israel dan Praktik-praktik Zionisme, Pustaka, Bandung, 1988).

Karena sifatnya yang sekuler itulah, maka sejak awal mula digulirkan, banyak kalangan Yahudi yang menentang pendirian negara Israel. Sebagai sebuah ideologi, Zionisme memang tidak pernah sama sekali menyingkirkan masa lalu. Zionisme dapat saja mengambil keyakinan
kuno, yang disucikan melalui upacara ritual dan doa, dalam upaya mengembalikan orang-orang Yahudi ke Zion (Jerusalem), seraya mempolitisasi tradisi ini serta memberinya pengertian dan isi baru. Maka, sejak digulirkan, Zionisme telah mendapat tantangan datang dari kelompok Yahudi Ortodoks.

Bagi kelompok Ortodoks, seperti kelompok Hasidim dan yang lainnya, Zionisme dianggap terlalu sekular sehingga merusak tradisi dan nilai-nilai Yahudi. Tujuan Zionis untuk
mengembalikan kehidupan nasional bangsa Yahudi di negara Israel dianggap melanggar ajaran-ajaran agama. Menurut mereka, gagasan itu merupakan pelecehan terhadap misi kenabian (the mission of Israel) dan doktrin messianisme (the messianic doctrine). Hingga kini, sekte-sekte Ortodoks Yahudi seperti Naturei Karta justru mengharapkan kehancuran negara Israel yang mereka anggap sebagai produk dari “Zionisme tak bertuhan” (godless Zionism).

Nama “Naturei Karta” diambil dari bahasa Aramaic (Inggris: Guardians of the city), adalah kelompok anti-Zionis, ultra-ortodoks, yang tidak mengakui negara Israel dan secara
konsisten menentang negara Yahudi ini. Kelompok ini mendukung perjuangan Palestina dan menyerukan internasionalisasi Kota Jerusalem. Ajaran Natureiv Karta yang menolak negari Israel, didasarkan pada Talmud (Ketubot 111a), yang menyebutkan adanya perintah Tuhan untuk tidak: (1) menggunakan kekerasan dalam mengembalikan massa ke ‘land of Israel’ (2) melakukan pemberontakan terhadap bangsa dimana Yahudi tersebar dan (3) mengambil inisiatif dalam mempercepat datangnya Messiah secara prematur.

Israel Negara Rasialis

Dalam perkembangannya kemudian, Israel juga merupakan negara rasialis. Negara ini diperuntukkan bagi kaum Yahudi di manapun juga. Siapa pun yang lahir dari Ibu Yahudi, maka ia dianggap Yahudi, dan punya hak sebagai warga Israel. Karena itulah, arus imigran yahudi ke Israel terus mengalir. Hanya saja, setelah aksi-aksi bom syahadah di Palestina, banyak kaum Yahudi takut datang ke Israel.

Karena sifat agresifnya dan deskriminatifnya itu, maka dalam bukunya Jewish History, Jewish Religion (1999) cendekiawan Yahudi, Dr. Israel Shahak, mencatat bahwa negara Israelbukan hanya merupakan bahaya bagi Yahudi,  tapi juga seluruh negara di Timur Tengah. (In my biew, Israel as a Jewish state constitutes a danger not only to itself and its inhabitants, butto all Jew and to all other to peoples and states in the Middle East and beyond). Dalam
mendirikan negara Yahudi Israel, kaum Zionis juga menggunakan cara-cara yang tidak manusiawi, termasuk mengorbankan kaum Yahudi sendiri.

Sebuah buku yang ditulis oleh sastrawan dan sejarawan Inggris, Faris Glubb berjudul“Zionist Relations with Nazi Germany” mengungkapkan fakta-fakta tentang hubungan antara Zionist dan Nazi Jerman. Dalam pengantar bukunya, Glubb mengaku heran, mengapa fakta-fakta hubungan Zionis-Nazi Jerman yang begitu banyak, tidak dipahami oleh publik internasional? Hingga kini, dunia internasional, maish terus menganggap bahwa pembantaian Yahudi di Jerman adalah murni ulah Nazi. Tentu, ini tidak lepas dari kuatnya cengkeraman Yahudi dalam permainan “opini” dunia.

Hubungan Muslim-Yahudi

Fakta bahwa Yahudi sendiri sebenarnya berpecah belah dan “tidak satu” perlu dipahami dengan jelas, sehingga peta persoalan Yahudi, Zionis, dan negara Israel, dapat didudukkan dengan baik. Zionisme yang digulirkan pada akhir abad ke-19, menyusul berbagai pembantaian
Yahudi oleh Kristen Eropa, memang telah banyak mengubah peta hubungan Yahudi dengan Muslim.

Dalam sejarahnya, Yahudi banyak sekali mendapatkan perlindungan dari kaum Muslim, ketika mereka menjadi perburuan kaum Kristen Barat. Pada 1095, misalnya, tokoh
Kristen Perancis, Godfrey of Buillon, menyatakan, bahwa“darah Kristus harus dibayar dengan darah Yahudi.” Bahkan, sampai tahun 1492, ketika Yahudi menjadi perburuan penguasa Katolik Spanyol, dimana Ferdinand dan Isabella mengeluarkan Edict of Expell, penguasa Muslim Ottoman menyediakan tempat yang aman bagi kaum Yahudi. Dalam sejarah hubungan Yahudi-Muslim yang panjang, selama 1000 tahun lebih,
Yahudi banyak mendapat perlindungan dari penguasa Muslim. Tapi, akhirnya mereka berbalik. Melihat Ottoman dalam proses kehancuran, dan Barat lebih kuat, mereka justru ikut menghancurkan Ottoman dari dalam.

Jika kita menelaah buku-buku tentang hubungan gerakan Zionis dengan Gerakan Turki Muda (Young Turk Movement), tampak jelas, bagaimana kaum Zionis memiliki peranan cukup besar dalam penghancuran Ottoman. Zionis memang telah mengubah peta sejarah hubungan
Yahud-Muslim. Mereka kemudian bersekutu dengan kolonialis Barat untuk merebut dan menjajah Palestina. Pada Desember 1917, ketika pasukan sekutu pimpinan Lord Allenby masuk ke Jerusalem, ribuan milisi Yahudi tergabung di dalamnya. Dan kini, kelompok Kristen
fundamentalis di AS khususnya, menjadi penyokong kuat kelompok Zionis ini.

***
Israel kini cukup kelabakan menghadapi aksi-aksi syahadah para pejuang Palestina ini.
Koran Haaretz, sebuah media surat kabar harian Israel, pada 2003 saat intifadah kedua sedang meletus, pernah mempublikasikan satu berita berjudul: “Israel seeks international support for a treaty against suicide bombers.” Disebutkan, Deplu Israel sedang menyiapkan draft
keputusan internasional, untuk mematahkan aksi-aksi ‘suicide’ tersebut. Diantara isinya adalah memutuskan ‘suicide attacks’ sebagai kejahatan internasional (international crime), termasuk
semua tindakan membantu aksi tersebut, seperti menyiapkan sabuk peledak (explosive belts).
Kita bisa bayangkan, bagaimana sebuah kekuatan militer yang sangat besar – seperti Israel – didukung negara-negara adikuasa seperti AS, begitu kelabakan menghadapi aksi anakanak muda, bahkan kanak-kanak Palestina, yang sedang bergairah melakukan aksi syahadah.

Tampaknya, para pejuang Palestina itu berpikir, untuk apa membuang kesempatan untuk syahid? Semakin Israel memburu Hamas dan lain-lain, dan membunuhi para aktivisnya, maka aksi perlawanan juga semakin meningkat.

Pandangan dunia yang melihat perlawanan rakyat Palestina, khususnya Hamas sebagai terorisme, tentu sangat menyakitkan. Sebab, Uni Eropa dan tentunya AS, sama sekali tidak mau bersikap adil dalam melihat persoalan Palestina. Israel yang jelas-jelas melakukan berbagai aksi terorisme – dalam skala yang jauh lebih besar – dan melanggar berbagai resolusi PBB, tidak mendapatkan sanksi apa pun.

Walau bagaimanapun sikap politik berbagai penguasa negara barat menetapkan perlawanan Palestina sebagai teroris, gerakan-gerakan anti-Israel sekarang disana justru telah mencapai tahap yang cukup signifikan. Gerakan anti-Israel ini bukan hanya dimotori kaum Muslim, tetapi juga kalangan aktivis anti-globalisasi, dan bahkan kalangan Yahudi sendiri, terutama dari kalangan Yahudi Ortodoks.

Kaum Muslim perlu mulai serius belajar dari sejarah dan fakta tentang Yahudi, mengingat bangsa ini begitu banyak disebut dalam al-Quran. Kaum Zionis Yahudi, yang hanya
sebagian dari Bangsa Yahudi (yahudi seluruh dunia kini jumlahnya sekitar 15 juta jiwa), terbukti masih mempunyai kekuatan besar dalam mempengaruhi arah dan corak politik internasional.

Sudah saatnya kaum Muslim memahami fenomena ini dengan serius agar tidak terjatuh kembali dalam berbagai kesalahan di masa lalu. Perjuangan tidaklah dapat dimenangkan hanya dengan “kemarahan” dan “kebencian”. Tetapi, dengan ilmu yang kuat.
Saya cukup terkejut mencermati isi sejumlah nomor Jurnal Israel Oriental Studies, terbitan Tel Aviv University. Dalam sejumlah nomornya, Jurnal ini membahas dengan sangat
mendalam, berbagai aspek keagamaan dalam Islam. Termasuk studi tentang al-Quran, hadith, dan berbagai aspek tentang sejarah Islam.

Pada edisi tahun 1974, misalnya, Jurnal ini menurunkan satu tulisan Prof. Moshe Gil, berjudul“The Constitution of Media: a reconsideration. Terlepas dari kesimpulan yang
dibuatnya, tulisan ini dibuat sangat professional, dengan rujukan Kitab-kitab standard kaum Muslim, seperti Sirah Ibn Hisyam, Sirah al-Halabiyah, Sahih Bukhari, dan beberapa
kitab Sunan dalam Hadith, Lisan al-Arab, dan sebagainya.

Tahun 1997, artikel Moshe Gil ini dijawab oleh Michel Lecker, di Jurnal yang sama dengan satu judul tulisan: “Did Muhammad Conclude Treaties with the Jewish Tribes Nadhir, Qurayza, and Qaynuqa?” Di nomor ini juga, ada sejumlah tulisan tentang Islam, antara lain tulisan Gerald R. Hawting tentang Syirik and Idolatry in Monotheistic Polemic, juga tulisan Steven M. Wessertrom berjudulSahrashtani on Maghariyya.

Jika kita hendak mengkritisi tulisan-tulisan seperti ini, mau tidak mau dituntut untuk merujuk, minimal pada Kitab-kitab standard yang sama!!!. Saya berpikir, seberapa banyakkah
cendekiawan Muslim yang sanggup melawan cara kerja Yahudi seperti ini?
Selama ini, banyak kaum Muslim telah memberikan perhatian pada aspek-aspek perjuangan fisik melawan pendudukan Zionis Yahudi. Ternyata, Israel bukan hanya
menyiapkan bom dan senjata nuklir, tetapi juga “bom-bom pemikiran” yang sangat dahsyat.
Adakah kaum Muslim yang juga tertarik untuk melawan perang pemikiran yang juga sudah disiapkan dengan matang oleh kaum Zionis Yahudi? Wallahu a’lam.

Sebarkan Kebaikan!

Comments

comments