Hasil Muktamar Ulama Internasional Dalam Pembelaan Tiga Tanah Suci Islam

Spirit of Aqsa – Jakarta (6/7) Puluhan ulama dan Da’i Internasional hari ini mengikuti seminar Internasional dengan tema; “Pembelaan Terhadap Tanah Suci Umat Islam” yang digelar oleh Rabithah Ulama dan Dai Asia Tenggara di hotel Grand Cempaka Jakarta Pusat.

Pembelaan Terhadap Tanah Suci Umat Islam yang mencakup tiga tempat yaitu; Kota Mekah, Madinah dan Baitul Maqdis di Palestina, para ulama memaparkan sejarah dan dalil hubungan antara Haramain (Mekah, Madinah) dan Baitul Maqdis serta ancaman yang ada hari ini.

Sebagai pembicara utama pada seminar internasional ini adalah Mufti Mauritania Ahmad Al-Murabith, Ulama Saudi Arabia Muhammad Asy-Syinqithi, KH. Bachtiar Nasir, KH. Zaitun Rasmin, dan KH. Rafiuddin.

Adapun hasil pertemuan ulama dan dai Internasional ini dalam membela tiga tanah suci umat Islam adalah sebagai berikut:

Sesungguhnya keberadaan tanah suci bagi agama apapun tidak bisa dipisahkan dari aqidah dan ibadah umatnya. Demikianlah keberadaan kota Mekah, Madinah, dan Baitul Maqdis tidak bisa dipisahkan dari Aqidah dan Ibadah kaum muslimin.

Kaum muslimin di seluruh dunia wajib bersyukur atas terpeliharanya dua kota suci utama, yaitu Makkah dan Madinah, dalam penjagaan dan pemeliharaan penuh kaum muslimin di bawah kapemimpinan yang mulia Raja Saudi Arabiya sebagai pelayan dua kota suci.
Namun demikian, kaum muslimin tidak boleh lupa denga kondisi kota suci yang ketiga, yaitu Baitul Maqdis yang sudah lebih dari tujuh puluh tahun dalam cengkraman penjajahan Zionis Israel hingga saat ini.

Padahal sejatinya semua kota suci itu harus berada dalam penguasaan, pemeliharaan, dan penjagaan umat Islam sendiri. Karena hakikat kota suci itulah adalah keberadaan “Rumah Allah”, yaitu mesjid-mesjid suci, dan Allah hanya mengizinkan penjaga dan pemakmur mesjid-mesjid Allah itu adalah rang-orang yang beriman, bukan orang-orang yang kafir dan menyekutukan-Nya,
“Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan mesjid-mesjid Allah, sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan mereka kekal di dalam neraka. Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (At Taubah : 17-18)

Sungguh sangat memprihatinkan dan sekaligus mengkhawatirkan pada saat Baitul Maqdis masih dalam cengkraman penjajah Zionis Israil karena umat Islam dunia masih belum bersatu untuk mengembalikan kepangkuannya, usaha-usaha untuk mengacaukan kedamaian dan stabilitas dua kota suci Mekah dan Madinah mulai didengungkan lagi, di antaranya dengan isu dan wacana internasionalisasi dua kota suci itu yang dipelopori oleh negara tertentu.
Isu dan gagasan seperti itu tentu sangat berbahaya bagi negara pelayan dua kota suci khususnya, stabilitas kawasan, dan bagi umat Islam di seluruh dunia pada umumnya. Oleh sebab itulah kewajiban kaum muslimin di dunia untuk menolak gagasan tersebut dan bersatu padu untuk membela kesucian dan keselamatannya.

Atas dasar pemikiran dan fakta tersebut, peserta muktamar Pembelaan terhadap Tanah Suci Umat Islam, yang berlangsung di Grand Hotel Cempaka, Jakarta Pusat pada hari Jum’at Tanggal 22 Syawal 1439 H / 6 Juli 2018 M, menyerukan kepada semua kaum muslimin terutama para pemimpin dan ulamanya agar menyikapi permasalahan kota-kota suci itu secara adil dan seimbang. Perjuangan membebaskan Baitul Maqdis dari cengkraman Zionis Yahudi sama pentingnya dengan menjaga dan melindungi Haramain dari usaha mengacaukan dan mencabutnya dari pelayannya yang sah, apa lagi dengan issu internasionalisasi Al Haramain yang sesungguhnya hanyalah cover untuk konspirasi mengacau stabilitas .

Demikian pula sebaliknya, tidaklah adil jika menjaga kemuliaan Haramain sementara penderitaan Baitul Maqdis dibiarkan tanpa ada yang mempedulikannya.

Jakarta, 22 Syawal 1439 H/6 Juli 2018 M.

Comments

comments