Jamal dan Muntaha, Kisah Pertemuan 50 Menit di Penjara Israel

Spirit of Aqsa|Ramallah – Pandangannya lurus ke depan. Tidak sedikitpun menengok ke kiri atau ke kanan. Wanita itu terus menatap ke depan untuk mencapai tujuannya yang tinggi, untuk sampai pada kekasihnya, yang meringkuk di penjara padang pasir Negev Israel, yang telah terputus komunikasi dengannya karena penahanan yang terus diperbarui oleh penjajah Israel sejak 20 tahun.

Kisah cinta, yang dimulai dari gang-gang dan jalan-jalan kota Al-Bireh di Tepi Barat bagian tengah. Kisah cinta yang dilukis bab-babnya oleh Muntaha Tawil, istri orang pemimpin Hamas yang ditahan penjajah Israel, Syaikh Jamal Tawil. Pihak penjajah Israel menolak dan melarangnya untuk mengunjungi suaminya selama penahanan sejak 20 tahun. Dan ini adalah pertemuan pertamanya di penjara padang pasir Negev.

Pertemuan itu hanya diizinkan berlangsung selama 45 menit. Namun Muntaha berhasil menambah waktu 5 menit padanya. Waktu 50 menit menjadi pertemuan paling indah di antara mereka berdua meskipun laras senapan tentara Israel terus ditodongkan ke arah mereka.

Muntaha adalah seorang bekas tawanan yang telah dibebaskan dari penjara Israel. Dia berhasil “merebut” (memaksa Israel mengeluarkan) surat izin untuk mengunjungi suaminya. Ini menjadi contoh khas bagi para istri yang suaminya selama bertahun-tahun mendekam di penjara-penjara Israel, yang dengan sabar dan melawan semua keputusan rerpesif keamanan Israel.

Syaikh Jamal Tawil, lelaki berusia 56 tahun ini adalah salah satu pemimpin gerakan Hamas yang paling terkemuka di Tepi Barat. Selama 12 dia pernah menjadi tahanan administratif (tanpa tuduhan dan proses hukum) dan mendekam di berbagai penjara Israel dimulai sejak tahun 2002.

Adegan romantis!

Ummu Mohammed Muntaha Tawil, dia sendiri yang menyusun rencana romantis untuk bertemu dengan suaminya di ruang kunjungan keluarga tahanan di penjara pada pasir Negev. Dia bersepakat dengan putranya Yahya, bahwa kunjungan pertamanya ini akan menjadi kunjungan yang mengejutkan suaminya, yang biasanya pihak penjajah selalu menolak dan melarang kunjungan yang dilakukan oleh istrinya.

Muntaha Tawil mengatakan bahwa suaminya tidak tahu tentang kunjungannya ini. “Saya merekomendasikan kepada putra saya dan keluarga tawanan agar pertemuan saya dengan suami saya ini menjadi pertemuan yang mengejutkan dia. Saya minta kepada Yahya, yang sudah diketahui ayahnya bahwa dia akan mengunjunginya, agar tidak memberitahu kedatangan saya bersamanya,” terang Muntaha Tawil kepada koresponden Pusat Informasi Palestina.

Ketika pertemuan putranya dengan ayahnya dimulai, Yahya meminta agar ayahnya memejamkan. Begitu matanya dibuka, kegembiraan itu membuncah karena bertemu dengan “kekasih tercinta”, kegembiraan yang meluap-luap karena bisa bertemud engan istrinya.

Kepada koresponden Pusat Informasi Palestina, Muntaha Tawil menggambarkan suasana aula pertemuan setelah dia bertemu suaminya. Dia mengatakan, “Ruangan itu penuh tepuk tangan dan sorak sorai di depan para tentara penjajah Israel. Merekapun meminta kami agar mengakhiri pertemuan. Akan tetapi saya berhasil memperpanjang waktu pertemuan selama lima menit lagi.”

Sukacita dan kegembiraan benar-benar dirasakan oleh Jamal Tawil saat membuka kedua matanya karena tiba-tiba dia mendapati istri tercintanya ada di depan matanya. Pertemuan ini semakin menambah kesabaran dan keteguhan suaminya, terlebih setelah sang suami melakukan aksi mogok makan selama lima hari berturut-turut di penjara Israel karena memprotes perpanjangan penahannya berulang-ulang.

Jamal Tawil berpesan untuk mendukung dan memperkuat tekad para tawanan dengan mendukung mereka melalui berbagai kegiatan dan menyokong keluarga mereka yang terus menunggu-nunggu waktu pertemuan yang bahagia di luar tembok penjara Israel.

Selama paruh pertama tahun ini, pengadilan militer penjajah Israel mengeluarkan 432 perintah penahanan administratif (tanpa tuduhan dan proses hukum) terhadap tahanan Palestina, termasuk 294 perintah perpanjangan dan 138 perintah penahanan baru terhadap warga Palestina, dengan rentang waktu antara 2 hingga 6 bulan, dan itu dapat diperpanjang kapapun dan beberapa kali pun.

Penahanan administratif adalah prosedur yang biasa digunakan oleh pasukan pendudukan Israel untuk menahan warga sipil Palestina tanpa tuduhan khusus dan tanpa proses pengadilan. Prosedur ini membuat tahanan dan pengacaranya tidak boleh mengetahui alasan penahanan, dengan dalih berkas rahasia.

Kebijakan ini menghalangi adanya pembelaan pada korban secara efektif. Kebanyakan perintah penahanan administratif terhadap tahanan Palestina ini diperbarui dan diperpanjang beberapa kali dengan keputusan berdasarkan “Perintah Instruksi Keamanan 1651, yang memberikan wewenang kepada komandan wilayah militer untuk menahan seseorang atau orang hingga enam bulan lamanya”.

Sumber: Pusat Informasi Palestina

 

Share:

Comments

comments