Gaza Menanti Serangan Berikutnya

KEMARIN malam Kota Gaza yang semula gelap, mendadak terang-benderang oleh bola api yang ditembakkan sejumlah pesawat yang datangnya dari utara. Diiringi suara gemuruh yang dahsyat dari langit, dentuman keras terdengar bertubi-tubi di beberapa lokasi pusat kota.

Sejumlah bangunan yang menjadi pusat pemerintahan dan sejumlah rumah di pemukiman penduduk yang berdekatan tiba-tiba luluh-lantak dan rata dengan tanah. Pesawat-pesawat tempur Israel jenis F-16 terus meraung-raung dan berkelebat dengan cepat memuntahkan bom-bom berdaya ledak tinggi silih-berganti.

Para pejuang bersenjata Palestina khususnya dari kelompok Hammas dan Jihad Islam membalasnya dengan meluncurkan sejumlah  roket ke wilayah Israel. Sejumlah penduduk mengalami luka-luka dan tidak ada yang meninggal dunia. Hal ini terjadi berkat peringatan yang diberikan oleh pihak Israel sebelum serangan dilakukan, sehingga warga Gaza sempat menyelamatkan diri dengan berlindung di tempat-tempat yang aman. Sementara roket-roket yang diluncurkan dari Gaza jatuh di wilayah-wilayah yang kosong.

Ada sejumlah fenomena menarik yang perlu dicermati untuk memahami peristiwa saling serang antara Israel dan para pejuang Palestina di Gaza. Fakta-fakta yang tampaknya tak saling terkait, ibarat potongan-potongan puzzle yang kalau dirangkai, akan memberikan gambar atau pesan tertentu.

Diantara fakta-fakta itu, antara lain: Pertama, roket yang diluncurkan oleh para pejuang Palestina dari Gaza yang menghantam pinggiran Kota Tel Aviv, dilakukan bertepatan dengan saat Perdana Menteri Benjamin Netanyahu berada di Washington DC. Kunjungan Netanyahu kali ini dalam rangka meminta dukungan Presiden Amerika Donald Trump untuk menganeksasi dataran tinggi Golan milik Suriah sekaligus menghadiri pertemuan komunitas Yahudi Amerika yang diorganisir oleh AIPAC. Dua agenda ini sangat pekat bermotif kampanye, mengingat Pemilu Israel yang kurang dari dua minggu lagi, dimana Netanyahu maju kembali sebagai petahana.

Kedua, Benjamin Netanyahu segera meninggalkan Washington DC untuk kembali ke Israel setelah bertemu Trump, bahkan sampai membatalkan agendanya menghadiri acara AIPAC. Hal ini mengindikasikan bahwa bukan saja terget yang ingin diraihnya dalam kunjungannya kali ini ke Washington DC terganggu, bahkan bisa-bisa bila ia lambat atau salah dalam merespon serangan roket kali ini, maka peluangnya untuk terpilih kembali akan hilang. Karena itu, buru-buru ia membuat pernyataan keras, dengan mengatakan: “Israel tidak akan mentolerir serangan ini” dan “Israel akan merespons agresi keji ini dengan keras”.

Ketiga, meskipun mesin perang darat Israel sudah digerakkan ke perbatasan dan siap untuk memasuki wilayahnya Gaza bila ada aba-aba. Akan tetapi, setelah gempuran udara selesai, sampai saat ini perintah untuk menggempur Gaza lewat darat belum juga diberikan.

Keempat, jurubicara Hammas dan Jihad Islam menyatakan bahwa Mesir berusaha untuk memediasi agar dilakukan gencatan senjata. Akan tetapi pihak Israel belum mengkonfirmasinya. Artinya Israel bisa saja melakukan serangan darat dan udara berikutnya.

Kelima, pihak oposisi Israel menuduh apa yang dilakukan Israel dibawah kepemimpinan Netanyahu terlalu lemah dalam merespon serangan roket yang dikirim dari Gaza. Sebagaimana diketahui pemilih di Israel cendrung untuk memilih calon pemimpin yang kuat. Padahal dalam jejak pendapat terakhir, sebagai petahana Netanyahu hanya memiliki keunggulan yang tipis atas penantang utamanya Jenderal Purnawiran Benny Gantz.

Keenam, meskipun pemerintah dan rakyat Suriah sangat terpukul dan dilecehkan dengan apa yang dilakukan Netanyahu bersama Trump terkait Golan, akan tetapi belum ada tanda-tanda pergerakan militer yang berarti khususnya di sekitar Golan di sisi Suriah. Mungkin saja pemerintah Suriah menunggu hasil pemilu, sembari berharap Netanyahu akan kalah.

Ketujuh, Hasan Nasrallah yang menjadi orang nomor satu milisi Hisbullah yang pasukannya kini siap tempur dan berada di perbatasan Israel baik di wilayah Suriah maupun Lebanon, hanya membuat pernyataan umum dengan menyatakan bahwa hanya ada satu jalan bagi Suriah, Lebanon, dan Palestina untuk mendapatkan kembali wilayah yang diduduki yaitu dengan perjuangan bersenjata. Pernyataan yang memgisyaratkan tidak adanya rencana Hisbullah bergerak dalam waktu dekat.

Kedelapan, Iran sebagai pemain kunci di tingkat regional dan memiliki kemampuan untuk mengkoordinasi berbagai kekuatan di wilayah ini untuk menggempur Israel, tidak memberikan isyarat akan melakukannya dalam waktu dekat. Presiden Iran Hassan Rouhani hanya menyatakan bahwa Presiden Trump mempraktikkan kolonialisme terkait dukungan Amerika pada Israel dalam masalah Golan.

Dari fakta-fakta di atas dapat disimpulkan, baik pemerintah Israel yang dipimpin oleh Netanyahu maupun lawan-lawannya, baik di dalam negri maupun di luar negri, semuanya sedang memainkan kartu-kartu politik dan militer terkait dengan pemilu di Israel yang akan diselenggarakan pada 9 April mendatang.

Karena itu, kapan serangan berikutnya ke wilayah Gaza dan berapa besar skala perang yang diinginkan Israel sangat ditentukan oleh bagaimana tim kampanye Netanyahu membaca tingkat popularitas dan elektabilitas jagonya. Jika popularitas dan elektabilitasnya masih bagus, besar kemungkinan serangan baru tidak akan dilakukan. Akan tetapi bila yang terjadi sebaliknya, maka diperkirakan akan terjadi serangan berikutnya.

Masalahnya kini lawan politiknya baik di dalam negeri maupun di luar negeri, memiliki logika yang sama dan akan melakukan manuver untuk tujuan sebaliknya. Karena itu banyak hal tidak terduga bisa saja terjadi sebelum rakyat Israel menentukan pilihannya di bilik-bilik suara.

Penulis adalah pengamat politik Islam dan demokrasi.

Share:

Comments

comments