Kerinduan dari Pinggiran Kali Ciliwung Terhadap Palestina

Spirit of Aqsa – Jakarta |Suasana di Masjid Al Hidayah malam itu berbeda dari biasanya. Bangunan yang terletak di pinggiran Kali Ciliwung, Jakarta Selatan itu dipadati oleh pemuda-pemuda dari berbagai kalangan. Bahkan masjid kecil tersebut mencipta kerinduan kepada Baitul Maqdis, Palestina.

Wajah-wajah mereka mengukir secercah harapan untuk kemerdekaan Palestina, terkhusus terbebasnya Masjid Al Aqsa dari cengkeraman penjajah zionis Israel.

Yaaa… malam itu, 25 Januari 2019, bertetapan dengan Aksi “Great Return March” di Palestina yang diadakan tiap hari Jumat, kalangan emak-emak juga tak mau ketinggalan. Makanan, minuman, bahkan senyuman mereka tersaji dengan begitu ikhlasnya. Bagaimana tidak, seorang pejuang Palestina sedang berada di tengah-tengah mereka.

Adalah Syeikh As’ad Khalil Alhamudah, Jurnalis juga dosen sekaligus mujahid Palestina.

Kedatangannya mengobarkan semangat para pemuda yang selama ini hanya memandangi Kali Ciliwung. Menggambar kerinduan di tepiannya.

Guratan-guratan rindu, kobaran-kobaran api semangat kian nampak saat sang Syeikh bertutur, “Tak ada yang kami miliki dalam memperjuangkan pembebasan Masjid al-Aqsa kecuali jiwa, raga dan keluarga kami korbankan semua”,

Edukasi tentang kondisi terkini Palestina semakin membuat sungai-sungai mengalir dalam hati. Dedaunan bergelora dalam dada.

“Olehnya kami mengharap doa dan dukungan kalian saudaraku di Indonesia, karena membebaskan al-Aqsa adalah kewajiban seluruh umat Islam”, lanjut beliau. Baitul Maqdis adalah kita, umat Islam seluruh dunia.

Tahukah kita? Bahkan ada puluhan di antara pemuda yang datang dari jauh. Sebuah kabar menghampirinya, dengan bus ia rela meninggalkan aktivitasnya demi bertemu dengan pejuang Palestina tersebut, dan mendengarkan langsung kondisi terkini negeri para nabi itu.

Namanya Ilham, dalam tuturnya, ada kerinduan pada Palestina. “Saya datang jauh mas, bersama lebih 10 teman saya kesini naik bus, setelah tau ada kajian Palestina dari grup wa.”

Satu pelajaran penting yang kita petik dari pemuda-pemuda ini adalah, ada semangat persaudaraan atas nama Islam. Dimana pun berada, apapun bahasanya, muslim? Kita bersaudara.

Seperti diketahui, Baitul Maqdis setelah melalui perhelatan sejarah yang begitu panjang. Konfrontasi ideologi sampai pada konflik fisik demi mempertahankan Masjid Al Aqsa telah tercatat dalam lembaran historis.

Kini, sekelompok kaum Yahudi mencaplok Al Aqsa dengan dalih Al Aqsa adalah milik mereka. Yang katanya di tempat tersebut terdapat tempat suci mereka, Haikal Sulaiman. Namun sejatinya, semuanya itu hanya kedok ideologi untuk berkuasa.

Share:

Comments

comments