Rakyat Palestina Diperlakukan Sebagai Tawanan Di Tanah Air Sendiri

Spirit of Aqsa | Hebron (24/11) – Kesepakatan Internasional bahwa perluasan pemukiman yang dilakukan oleh Israel adalah ilegal, tidaklah punya pengaruh berarti dalam keseharian rakyat Palestina. Kesepakatan ini memang membantu aktifis kemerdekaan Palestina untuk memiliki dasar tuntutan. Namun pada prakteknya bertahun-tahun, Israel menganggap semua tangisan, teriakan, tuntutan, protes, kecaman dunia internasional bak sekedar nyanyian bising tetangga.

Pasalnya, perluasan pemukiman bagi imgran-imigran ilegal Israel berdampak pada intimidasi dan diskriminasi atas rakyat Palestina yang semakin menyiksa. Sebut saja apa dinamakan Israel dengan “Prosedur Keamanan Sipil” di banyak daerah di Tepi Barat, yang tak lain adalah sistem yang mengamankan orang-orang Yahudi Zionis dari ancaman “Teroris” yang mereka sematkan pada rakyat Palestina.

Diantara bentuk Prosedur ini adalah “Pintu Kemanan Elektronik” yang mengelilingi wilyah pemukiman ilegal dan dalam waktu bersamaan, memblokade rakyat Palestina di rumah dan tempat aktifitas mereka. Bahkan, anak-anak sekolah harus melewati hingga belasan pintu keamanan eloktronik ini tiap harinya untuk sampai ke sekolah mereka.

Rakyat Palestina, “demi keamanan rasisme Yahudi Zionis” harus menjalani hari-hari sebagaimana tawanan di rumah dan tanah air mereka. Terlebih, dalam musim dingin, blokade seperti akan membuat mereka harus semakin lama bertahan kedinginan di luar rumah untuk melewati pemeriksaan diskriminatif Penjajah.

Apa yang bisa kita bantukan?
Berbagi kepedulian bersama kami; bit.ly/JihadHartaAQSA

Share:

Comments

comments