Blokade dan Krisis Ekonomi Hambat Warga Gaza Menyempurnakan Separuh Agama

Spirit of Aqsa – Jalur Gaza | Lembaga Pengadilan Agama provinsi Selatan Gaza melaporkan bahwa persentase pernikahan di tahun 2018 di Gaza turun secara drastis sementara kasus perceraian bertambah.

Dalam konferensi pers, Senin (18/02/2019), Hakim agung provinsi selatan Gaza, Hasan al-Juju melaporkan bahwa Pengadilan Agama telah menangani 293 kasus di tahun 2018.

Dia menambahkan bahwa persentase pernikahan turun secara drastis. Tahun 2015 lalu, tercatat bahwa warga Gaza yang melangsungkan akad nikah sebanyak 20778, namun jumlah tersebut menurut tahun lalu menjadi 15392 pernikahan.

Menurutnya, masalah ekonomi menjadi hambatan utama bagi warga Palestina di Gaza dalam melaksanakan pernikahan terutama akibat blokade yang menjerat Gaza sejak 12 tahun silam.

“Jika situasi ini terus berlangsung maka hal akan menghambat warga Gaza yang ingin menyempurnakan separuh agama, ‘’ ujarnya.

Dilain pihak, kasus perceraian bertambah menjadi 3171 kasus di tahun 2018. “Blokade Israel terhadap Jalur Gaza yang mempengaruhi situasi ekonomi di sektor tersebut mendorong terjadinya disintegrasi sosial yang menambah persentase perceraian.”

Al-Juju juga mengajak seluruh pihak  baik yayasan pemerintah atau sosial untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya terhadap Gaza. Mereka juga menuntut agar blokade terhadap sektor tersebut segera dihapus demi menyelematkan remaja Palestina.

Sejak pemerintah Israel mengisolasi Gaza, tingkat kemiskinan Gaza bertambah pesat. Tercatat 53% warga Gaza hidup di bawah garis kemiskinan. Sebagian besar dari mereka tidak mampu menghidupi keluarganya.

Awal 2018 lalu, Sekjen PBB, Antonio Guterres telah menegaskan bahwa Gaza yang memiliki populasi dua juta jiwa tersebut akan menjadi wilayah tak layak huni pada tahun 2020.

Sementara itu, Profesor Hubungan Internasional Universitas Oxford, Avi Shlaim mengatakan bahwa Israel telah mengubah Jalur Gaza menjadi penjara terbesar di dunia.

Dalam sebuah artikel yang dirilis The Guardian dalam peringatan 10 tahun operasi “Cast Leads”, sejarawan Yahudi tersebut mengatakan bahwa sampai saat ini pemerintah Israel masih menggunakan cara-cara brutal dalam menghadapi warga Gaza.

Share:

Comments

comments