Pesan Dibalik Senyuman Mereka

Seorang jurnalis asal Palestina menceritakan senyum kepedihan yang dialami oleh rakyat Palestina. Dengan memperlihatkan sebuah foto penangkapan. Tergambar jelas mekar senyuman seorang muslimah yang ditahan. Juga senyum kebahagiaan dari seorang pemuda, yang bahkan wajahnya telah sejajar dengan sepatu penjajah. Tapi tahukah kita pesan dibalik senyuman itu?

“Tapi mengapa mereka tersenyum saat ditangkap? Kami tersenyum agar kalian tidak bersedih,” Syaikh As’ad Khalil Hamudah, Jurnalis & Pembawa Berita Media Gaza.

Sungai-sungai mengalir merdu dalam hati. Sebuah jawaban persaudaraan yang tak terfikir dalam logika. Bagaimana mungkin seorang terzalimi, dan masih memikirkan agar saudaranya tidak bersedih.

Ustadz Pizaro, Jurnalis Anadolu Agensi, juga menceritakan pengalaman junalistiknya, suatu ketika, kata beliau, ia hendak memberikan bantuan kepada seorang ulama di Suriah, tapi tahukah kita apa jawabnya. “Tidak, jangan berikan kepada saya, berikan kepada ulama yang lebih tawaduh.” Hal yang mengejutkan adalah ketika bantuan itu hendak diberikan kepada ulama yang dimaksud, “Tidak, dia lebih tawaduh daripada saya. Berikan saja padanya.”

Kata ustadz Pizaro, hal itu uterus berulang, “Mereka lebih mendahulukan saudaranya.”

Hal serupa terjadi kepada muslim Uighur, seorang korban bencana tsunami di Selat Sunda, Agung (34), mengaku sangat terharu atas pesan persaudaraan yang ditunjukkan muslim Uighur. “Mereka ini dizalimi, dibantai. Mereka bukan lagi bencana, tapi pembunuhan, pembantaian.” Begitu ucapnya kepada AQLnews.com

Seperti diketahui, Seyyit Tumturk, Abdul Kadir Tumturk, dan Gulbakhar Cililova, pengurus diaspora Uighur di Turki beberapa hari yang lalu bersilaturahim ke Indonesia untuk menguncapkan rasa terima kasihnya. “kami nsangat berterima kasih kepada Indonesia, di saat semua Negara Islam dia, Indonesia adalah satu-satunya bangsa yang mengadakan aksi besar untuk membela Uighur.” Ucap Seyyit Tumturk.

Diaspora Uighur tersebut, selain mengucapkan rasa terima kasihnya, mereka juga membawa bantuan 50 ribu dollar untuk korban tsunami Selat Sunda. Bantuan yang membuat mata Agung berkca-kaca tak percaya.

Senyum persaudaraan. ibarat sebuah lidih, ia tak akan bisa membantu membersihkan halaman rumah jika hanya satu, tapi jika banyak dan diikat dengan tali persaudaraan maka itu akan menjadi mudah.

Dibalik persaudaraan itu ada harapan. Harapan suatu saat, di hari yang entah, umat Islam seluruh dunia bersatu da saling menggenggam erat tangan sudaranya.

“Dan juga kami memberikan senyuman ini, bahwa kita umat Islam akan dimenangkan oleh Allah. Kami yakin bahwa kami tidak sendirian, ada umat Islam yang selalu membela kami.” Begitu pengakuan Syaikh As’ad.

Hal yang tak kalah mengharukan adalah, pengakuan jurnalis muda asal Palestina ini. “Kami (Palestina) mengidam-idamkan untuk datang ke Indonesia. Indonesia adalah tempat kami bersandar setelah Allah Swt., Indonesia adalah harapan kami, kekuatan kami. Bantuan Indonesia sangatlah banyak untuk Palestina,” ungkapnya.

“Secara geografis Indonesia adalah tempat yang sangat jauh dari Palestina, tapi paling dekat di hati kami,” urainya.

Dengan emosional, ada guratan di wajahnya yang tak bisa terungkap dalam kata saat ia mengatakan, “kalau kalian ada kesempatan berkunjung ke Palestina, tanyakanlah kepada anak-anak Palestina apa itu Indonesia.”

Telinga kita akan dimanjakan sebuah jawaban yang sangat menyentuh hati. “Aku mencintai Indonesia.Indonesia adalah ruh kami. Indonesia adalah kekuatan kami.” Ungkapan ini diucapkan dengan penuh rasa bangga, dengan penuh rasa cinta.

Di sini. Di kepung gerah udara ini, di tengah gegar panas cuaca ini. Sebelum diri terjaga dari tidur yang resah. Sebelum ada yang sempat mengusik hamparan peraduan. Selimut kesunyian dan tabir kesendirian. Sebelum ada sesak suara, lantunkan gema di kedalaman hati. Sebelum pada akhirnya senyuman persaudaraan akan membangunkan kita dan lalu lemparkan hati kita pada hamparan bahagia sujud bersama-sama di Masjid Al Aqsa.

Dan akhirnya sebuah cita kita tanamkan, sebuah asa kita kobarkan, untuk saling menggenggam tangan tanpa peduli kulit hitam, putih, melayu, Afrika, atau apapun itu. kita bersatu dalam persaudaraan. [Mohajer]

Share:

Comments

comments