Trauma Pascaserangan, Imigran Ilegal Yahudi Ramai Periksa Kejiwaan

Spirit of Aqsa, Tel Aviv – Salah satu media Israel, Yedioth Ahronoth, Ahad (12/05) waktu setempat, melaporkan lebih dari 1000 imigran ilegal Israel datangi posko terapi kejiwaan, untuk mengobati trauma pascaserangan antara militer penjajah Israel dan pejuang Palestina pekan lalu.

Posko terapi kejiwaan Israel, menurut laporan media tersebut, selama 2018 telah menerima lebih dari 4000 ribu warga yang mengadukan gangguan psikologis. Angka tersebut lebih tinggi 25 % dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Kebanyakan pasien berasal dari kalangan anak-anak dan remaja yang tinggal di wilayah selatan Israel. Bagian yang berbatasan langsung dengan Gaza.

Selain ketakutan terhadap serangan roket pejuang Gaza, unjuk rasa perbatasan dan serangan balon pembakar juga menambah keresahan imigran ilegal Israel.

Sebagian mereka juga berasal dari barisan mantan prajurit yang baru saja menyelesaikan tugas militer.

Direktur klinik terapi kejiwaan tersebut, Ole Gal, mengatakan, “Kita harus membukan mata dan mencari jalan keluar untuk melawan fenomena ini. Warga tidak bisa dibiarkan terus menerus hidup di bawah tekanan.”

Seorang penulis Israel, Michael Kleiner, dalam sebuah artikel di surat kabar Maariv, mengusulkan demi keamanan warga Israel, agar penduduk Palestina Gaza diusir ke Eropa.

Menurutnya, Konflik Gaza tidak hanya dapat diatasi melalui jalur militer. Pemerintah Israel seharusnya membukan jalan bagi warga Gaza yang ingin melarikan diri dari Gaza.

Konfrontasi serangan udara antara Militer Israel dan pejuang Gaza terakhir kali berlangsung pada hari Sabu (04/05) lalu. Serangan roket pejuang Palestina menewaskan empat warga Israel dan 130 warga lainnya luka-luka.

Korban di pihak Palestina jauh lebih besar. Dua puluh tujuh orang meninggal dan 154 orang cedera ditambah puluhan perumahan warga hancur terkena misil pesawat tempur.

Share:

Comments

comments