Terusir dari Rumahnya, Bayi ini Tewas Ditabrak Imigran Israel

Spirit of Aqsa |Lembah Yordan -Najeh Odeh Ka’abneh membawa barang-barangnya dengan menggunakan traktor pada 5 Agustus 2019 lalu, setelah pasukan penjajah Israel menghancurkan rumah tenda dan karavannya di Khirbet Hadidiya di Lembah Yordan utara. Dia dengan terpaksa meninggalkan tanahnya menuju tempat lain untuk bisa berlindung bersama anak-anaknya. Ini adalah pemandangan sehari-hari yang terjadi pada kehidupan penduduk desa-desa Palestina di Lembah Yordan terutama di Wadi al-Maleh dan sekitarnya.

Najeh Odeh Ka’abneh harus meninggalkan Hadidiya, sementara terik matahari membakar wajah putrinya yang baru berusia lima bulan, Hanna. Tidak ada atap yang melindunginya dari sengatan panar matahari, tidak ada tanah yang bisa menjadi tempat berlabuhnya.

Najeh dan istrinya mengumpulkan sisa-sisa makanan, pakaian, dan lain-lain yang berserakan. Istri serta anak-anaknya mengendarai traktor dan pergi ke daerah Jiftlik. Dengan air mata bercucuran dia meninggalkan Hadidiya melihat reruntuhan rumahnya yang dihancurkan tiga kali. Naasnya, begitu keluar dari Hadidiya, keluarga itu menjadi korban insiden lalu lintas yang fatal dan mematikan.

Kehidupan tidak memberi banyak waktu bagi bayi perempuan, Hanna, setelah ayahnya membawanya melarikan diri dari terik matahari hingga dia menghembuskan nafas yang terakhir tidak lama setelah kepergianya dari tanah kelahirannya yang sudah diratakan dengan tanah oleh pasukan penjajah Zionis Israel. Begitu keluarga itu keluar dari Hadidiya, kendaraan milik pemukim Yahudi yang melaju kencang menabrak traktor yang dikendarai keluarganya dan menjadi korban insiden yang menyakitkan.

Hanna meninggal di tempat, sementara ibunya terluka dan dalam kondisi kritis, delapan anggota keluarga lainnya terluka, barang-barang yang dikumpulkan dari Hadidiya bersengarakan jalan-jalan, seakan bumi telah menghimpit dan terasa sempit untuk menyambut keluarga yang menderita ini.

Kisah tragis keluarga Ka’abneh hanyalah adegan penderitaan yang pahit dan ketabahan individu yang legendaris dalam menghadapi alat-alat pembersihan etnis milik penjajah Israel di Lembah Yordan, di mana daerah Hadidiya adalah salah satu tempat paling panas yang menjadi target pasukan penjajah Israel.

Seorang penduduk Hadidiya, Eid Bisyarat, kepada koresponden Pusat Informasi Palestina mengatakan, “Kami dulu tinggal di Hadidiya sekitar 140 keluarga, tetapi hari ini kami hanya memiliki 12 keluarga. Masing-masing kami minimal rumah atau karavannya dihancurkan (pasukan penjajah Israel) sebanyak tiga kali.”

Dia menambahkan, “Kami tinggal di daerah yang diklasifikasikan sebagai zona “C” (yang secara administratif dan keamanan berada di bawah penjajah Israel). Jadi meskipun kami memiliki surat-surat bukti, otoritas penjajah Israel tidak mengakui semua itu. Mereka mengatakan pada kami: kalian pasti akan pergi dari sini, kalian tidak akan mendapat manfaat apapun dari semua dokumen kalian, setiap kali mereka menghancurkan properti kami.”

Salah seorang warga senior di Hadidiya, Haji Abdul Rahim Bisharat Abu Saqer, yang rumah tenda dan karavannya dihancurkan beberapa kali, mengatakan kepada koresponden Pusat Informasi Palestina, bahwa penduduk Hadidiya menerima banyak janji dukungan dari pemerintah dan badan-badan resmi, namun yang terjadi hanya kunjungan para pejabat untuk mengambil gambar saja.

Hadidiya terletak menghadap ke Lembah Bekaa di Lembah Jordan, salah satu koloni dengan aktivitas pembangunan permukiman Yahudi yang sangat kuat di Lembah Yordan. Sebelas desa Palestina di daerah itu menjadi sasaran perampasan dari mendapatkan semua perangkat kehidupan.

Hadidiya tidak memiliki layanan dan infrastruktur kehidupan yang minimal sekalipun. Tidak ada air, tidak ada listrik, dan tidak ada jalan beraspal yang menghubungkan masyarakat ke jalan utama. Warga terpaksa mengangkut air dari jarak jauh melalui truk tanker dengan biaya 25 shekel/cangkir jirigen, 5 kali lipat dari harga per meter kubik air yang dikonsumsi dari jaringan air publik di Tepi Barat.

Di Hadidiya, ada 37 anak yang terpaksa pergi ke sekolah di Tammoun dan Tubas setiap hari. Hal ini memaksa mereka untuk menempuh perjalanan dengan jarak sangat jauh. Yang akhirnya memaksa warga enggan mengirim anak-anak mereka ke sekolah.

Hadidiyya dikepung oleh tiga koloni permukiman Yahudi: pemukiman Ra’iya dan permukiman Ba’akot di barat, pemukiman Hamdat di timur, dan ditambah beberapa barak militer yang dibangun menggunakan tanah warga sebagai tempat pelatihan militer dengan senjata berat, sementara warga terjebak di daerah bernama zona militer tertutup.

Share:

Comments

comments