Petani Gaza Gagal Panen akibat Blokade

Spirit of Aqsa, Palestina – Yusuf Abu Selmi (32), seorang petani berbasis di Kota Gaza, sedang menunggu panen tahunan buah anggur untuk memulai dan mendapatkan keuntungannya dengan menjual buah lezat, setelah beberapa bulan merawat buahnya yang telah dibudidayakan.

Namun, Abu Selmi terkejut pada awal musim, terutama saat dia kehilangan keuntungan bahkan sebelum musim panen.

Beberapa alasan berada di balik kerugian itu, termasuk blokade Israel yang diberlakukan di Jalur Gaza, penutupan penyeberangan, krisis ekonomi dan keengganan pelanggan untuk membeli produk nasional, kata para petani.

Abu Selmi, ayah dari empat anak, mengatakan kepada Xinhua bahwa “kami tak mendapatkan hasilkan apapun untuk musim panen tahun ini,” menambahkan bahwa ia terpaksa harus menjual beberapa propertinya untuk dapat menyewa tanah pertanian.

“Perkebunan tahun ini menelan biaya sekitar 25.000 dolar AS, tetapi kami tidak menghasilkan apa-apa. Kami hanya mendapat sekitar 10.000 dolar dan kerugian rata-rata dua kali lipat,” tambahnya, seraya mencatat bahwa musim panen saat ini adalah masa paling buruk bagi petani.

Impor buah anggur dari Mesir dan Tepi Barat adalah salah satu yang paling sulit dihadapi oleh petani di Gaza, karena harus bersaing dengan produk lokal yang biasanya harganya lebih tinggi daripada harga buah impor.

Biaya satu kilogram anggur sebelum dipetik adalah sekitar 3 shekel baru Israel (0,84 dolar), sementara itu dijual dengan 2,3 shekel (0,65 dolar) per kilogram di pasar.

Sekitar 6.000 dunam (6 km persegi) lahan pertanian dapat dibudidayakan di Jalur Gaza, di mana ia seharusnya menghasilkan sekitar 7.500 ton anggur, menurut Kementerian Pertanian yang dikelola Hamas di Jalur Gaza.

Wakil Menteri Pertanian Ibrahim al-Qidra mengatakan kepada Xinhua bahwa hasil panen anggur tahun ini lebih rendah dari perkiraan dibandingkan dengan produksi tahun lalu, yang dipengaruhi oleh perubahan kondisi cuaca.

Al-Qidra menjelaskan bahwa harga jual anggur tidak memuaskan para petani karena lemahnya situasi ekonomi yang disebabkan oleh pengepungan Israel yang diberlakukan di Jalur Gaza, krisis upah pegawai negeri, serta kemunduran ekonomi wilayah itu.

Dia menekankan perlunya mendukung produk lokal untuk mendukung para petani dan untuk mencapai swasembada dalam beberapa tanaman yang memungkinkan keuntungan lebih besar bagi para petani.

Penjajah Israel memberlakukan blokade ketat di Jalur Gaza segera setelah Hamas menguasai wilayah itu pasca pemilu demokratis tahun 2007. Namun Israel dan Barat menggagalkan kemenenangan ini, dengan cara memblokade jalur laut, darat dan udara. Sejak itu, ekonomi di Jalur Gaza memburuk dengan situasi kehidupan yang menyulitkan pada penduduknya.

Sementara itu, Otoritas Palestina (PA) pimpinan Presiden Palestina Mahmoud Abbas, yang lebih dekat dengan Israel, ikut menjatuhkan sanksi terhadap Jalur Gaza setelah kegagalan upaya rekonsiliasi Palestina.

Sekitar 50 persen dari gaji karyawan PA dipotong, yang menyebabkan kenaikan tingkat kemiskinan.

Tingkat pengangguran telah meningkat menjadi 52 persen sejak penjajah Israel memberlakukan blokade, menurut laporan terbaru oleh Biro Pusat Statistik Palestina.

Menurut Komite Rakyat Palestina untuk Menghadapi Pengepungan Israel, pendapatan harian per kapita warga Gaza tidak lebih dari 2 dolar, yang terburuk di dunia.

Share:

Comments

comments