Mengenang Yahya Ayyash, Insinyur Jenius yang Paling Ditakuti Israel

Spirit of Aqsa|Gaza – Ahad (5/1/2020), rakyat Palestina memperingati 24 tahun kesyahidan Komandan Yahya Ayyasy, insinyur pertama Brigade al-Qassam, sayap militer Gerakan Perlawanan Islam Hamas. Dialah yang menggali namanya dalam memori dan ingatan rakyat Palestina dengan usahanya yang luar biasa dan langkah kualitatif yang dia ciptakan di dalam perlawanan Palestina, sehingga dia menempati tempat yang menonjol dan menjadi sebuah fenomena dan simbol dari isu dan sejarah kontemporer isu Palestina.

Yahya Abdul Latif Ayyasy lahir pada tanggal 6 Maret 1966 dari keluarga sederhana Palestina, yang menanamkan dalam dirinya keyakinan dan keberanian, menghafal Al-Quran pada usia enam tahun, dan menerima pendidikan dasar dan menengah di desa Rafat, dekat kota Salfit, wilayah utara kota Tepi Barat yang diduduki penjajah Israel.

Ayyasy lulus pada tahun 1991 dari Universitas Birzeit dari Fakultas Teknik Elektro dengan predikat terbaik. Setelah lulus dia mencoba untuk melakukan perjalanan ke Yordania untuk melanjutkan pendidikan pasca sarjana. Namun pengajuannya ditolak oleh otoritas penjajah Israel yang menguasai Tepi Barat. Terkait dengan ini, Yaakov Peres, kepala intelijen Israel pada saat itu, mengatakan, “Jika kami tahu bahwa insinyur Yahya Ayyasy akan melakukan apa yang dia lakukan, kami pasti memberinya izin dan kami tambah bonus satu juta dolar.”

Dia menikahi sepupunya (anak bibinya) pada 9 September 1992 M. Pada 1 Januari 1993, anak pertamanya, Bara, lahir. Dia tidak sempat menyaksikan kelahiran putra pertamanya, karena saat itu dia menjadi buron nomor satu pihak penjajah Israel. Hanya dua hari sebelum mati syahid, dia dikaruniahi putra keduanya, Abdu Latif, mamakai nama kakeknya.

Perjalanan jihad

Sejak dini Ayyasy sudah bergabung dengan gerakan Islam di Palestina sampai diumumkan pendirian gerakan Hamas. Perjalanan jihadnya dimulai ketika penjajah Israel menemukan sebuah bom mobil di daerah Ramat Af’al di Spring Hill (Tel Rabi) yang diduduki penjajah Israel. Dia dituduh sebagai salah satu dalang operasi. Dan sejak saat itu dia menjadi buron penjajah Israel.

Setelah pembantaian yang dilakukan ekstrimis Yahudi di Masjid Ibrahimi di Hebron pada tahun 1994, sang insinyur bermaksud untuk merencanakan pelaksanaan operasi syahid di jantung entitas Zionis. Yang pertama adalah operasi Afula. Yang dilakukan oleh Mujahid Raed Zakarneh. Operasi ini merenggut nyawa setidaknya delapan orang Israel dan puluhan lainnya terluka. Selanjutnya adalah operasi di Hadra. Yang dilakukan oleh Mujahid Amma Ammarinar. Operasi ini merenggut tujuh nyawa warga Israel dan puluhan lainnya terluka.

Yahya Ayyasy memegang kendali komando sayap militer Brigade al-Qassam di Tepi Barat dan Jalur Gaza. Dia merencanakan operasi militer secara secara langsung dan kadang-kadang bersama-sama, menyandera prajurit penjajah Israel, menggunakan bom mobil, alat peledak, operasi mati syahid.

Aktivitas Ayyasy fokus pada perakitan alat peledak dari bahan baku sederhana dan bahan-bahan yang ada dan tersedia di wilayah Palestina. Dia dianggap sebagai orang pertama yang memasuki medan perang dengan senjata (mati syahid). Senjata ini telah menimbulkan masalah keamanan paling rumit yang dihadapi oleh lembaga militer dan keamanan penjajah Israel sejak berdirinya entitas penajah Israel di tanah Palestina.

Ayash bergerak antara Tepi Barat dan Gaza. Dia berusaha menciptakan dinas militer yang kuat sehingga terwujud desentralisasi kekuatan. Di mana aksi-aksi dan operasi militer yang dilakukan tidak tergantung pada satu orang yang akan membuatnya berhanti dengan kematian atau penangkapannya. Dia juga bekerja untuk membangun sel-sel militer yang terpisah dan tidak dikenal satu sama lain.

Buron nomor satu

Serangkaian operasi mati syahid yang menyusahkan penjajah Israel, menjadikan Insinyur Yahya Ayyasy sebagai orang yang paling berbahaya dan dicari oleh pihak penjajah Israel, membuat ratusan mata-mata dan antek penjajah Israel mengolok-olok atas kematiannya.

Ayyasy dikenal karena gerakannya yang ringan, intuisinya yang cepat, dan pengalaman militernya yang mengejutkan para pemimpin militer penjajah Israel. Penjajah Israel menggambarkan Ayyasy dengan banyak gelar dan julukan. Mereka menggelarinya sebagai “rubah, jenius, pria dengan seribu wajah, profesor, insinyur, dalang, otak kreator, cerdik, rajawali al-Qassam, dan lain sebagainya. Mereka mengaguminya dengan kekaguman luar biasa pada muruh nomor satunya sebagaimana yang mereka gambarkan.

Kebingunan dan kegilaan Israel mencapai klimaksnya ketika Perdana Menteri Israel Yitzhak Rabin mengatakan, “Saya takut dia duduk di antara kita di Knesset (parlemen Israel).”

Bukan hanya Rabin saja yang bingung, tetapi juga menjadi mimpi buruk yang menyusup ke hati orang-orang Israel. Sehingga keberanian yang dimiliki Yahya Ayyasy membuatnya menjadi pahlawan yang dipuji oleh rakyat Palestina. Sementara namanya menjadi artikel semi-permanen di media Israel, sehingga namanya menghiasi halaman halaman pertama media Israel dengan judul “Ketahui Musuh Anda No. 1 … Yahya Ayyasy” dan di bawahnya berbagai gambar, dan menyibukan perhatian para politisi dan kalangan militer penjajah Israel.

Kesyahidan Ayyasy

Setelah berbulan-bulan penuh dengan jihad dan perlawanan yang menyakitkan pihak penjajah Israel, Ayyasy dibunuh pada 5 Januari 1996 di Beit Lahia, di Jalur Gaza utara. Sang Insinyur al-Qassam ini dibunuh dengan menggunakan alat peledak yang ditanam di ponsel, yang kadang-kadang dia gunakan. Ayyasy gugur setelah menunaikan amanah. Jenazahnya diiringi oleh setengah juta rakyat Palestina di Jalur Gaza saja.

Perjalanan jihad berlanjut hingga muncul di tengah-tengah al-Qassam pasukan para insinyur, yang kompasnya tidak pernah menyimpang dari pembebasan Palestina. Di antara kata-kata yang diungkapkan Ayyasy kepada penjajah Israel adalah, “Kalian jangan khawatir, saya bukan satu-satunya arsitek bom, karena ada besar pejuang al-Qassam yang sudah menjadi seperi (saya). Mereka akan mendatangi tempat-tempat tidur orang Yahudi dan para pembantunya dengan izin Allah.” Ayyas telah mendapatkan apa yang diinginkan. Karena sayap militer Hamas, setelah pembunuhan Ayyasy, telah menjadi lebih kuat dan lebih solid.

Suara setelah 24 tahun

Dalam rekaman audio yang terungkap untuk pertama kalinya sejak hampir 24 tahun, media Israel pada 24 November mengungkapkan rekaman suara pembicaraan telepon yang terjadi antara Ayyasy dan ayahnya di saat-saat terakhir yang menjadi sebab dia terbunuh melalui sebuah ponsel.

Banyak emosi bercampur dengan kebanggaan saat rekaman audio itu terungkap. Rekaman yang memperdengarkan suara komandan al-Qassam Yahya Ayyasy, yang selalu mereka dengar tentangnya dan tentang kepahlawanannya. Di antara yang ditulis oleh putra pertamanya Bara, dia mengatakan. “Hari ini, untuk pertama kalinya, aku mendengar suara ayahku.”

Dan juga apa yang dikatakan istrinya setelah mengomentari rekaman tersebut. Dia mengatakan, “Rekaman ini penting bagi penjajah Israel. Di dalamnya adalah semcam kenangan dengan seorang martir yang ‘berani’ melawan penjajah Israel, sampai dia menjadi menjadi buronan nomor satu. Terutama bagi Perdana Menteri Yitzhak Rabin, yang memamajng gambar khusus Yahya Ayyasy di kantornya, dan dia selalu bertanya setiap hari: apakah dia terbunuh atau tidak?” (PIC)

Share:

Comments

comments