Suha Jabara 62 Hari di Penjara Israel Penuh Siksaan dan Pelecehan

Spirit of Aqsa – Jericho | Suha Jabara (31) seorang ibu Palestina yang menjadi tawanan dinas keamanan Penjajah Israel. Ibu dari tiga anak tersebut ditangkap sejak 3 November 2018 lalu, dirinya dituduh mendukung keluarga tahanan dan para syuhada. Hari ini ia telah memasuki bulan ketiga dalam penyelidikan dan penghinaan secara otoriter di penjara Jericho.

Suha Jabara berdomisili di Tirmsia, Ramallah utara. Penangkapannya sangat mengejutkan warga Palestina, apalagi setelah Amnesty International melaporkan bahwa ia disiksan dan diancam dengan kekerasan seksual di penjara Jericho. Ia didakwa telah mengumpulkan dana illegal untuk mendukung keluarga para syuhada dan tahanan.

Penyiksaan dan penghinan

Penjara Jericho adalah tempat kini Suha Jabara menghabiskan hari-harinya yang ditangkap tanpa surat perintah resmi dari Kantor Penuntut Umum. Diketahui, ia melakukan aksi mogok makan sejak 22 November 2018 lalu dan masih berlanjut hingga saat ini.

Muhammad Karajah, pengacara Suha Jabara, menyebutkan bahwa penyelidikan yang dilakukan terhadap kliennya tidak memenuhi standar, sebagian besar berkasnya tidak diselesaikan oleh pengadilan yang kompeten. Hal ini mencerminkan kurangnya keseriusan dalam menangani kasus tersebut. Suha Jabara juga mengalami penyiksaan dan penghinaan akibat penolakannya menandatangi tuduhan yang tidak ia lakukan.

Dokumen palsu

Muhammad Karajah menjelaskan, pemalsuan dokumen dengan kop surat dari Kantor Jaksa Penuntut Umum namun tidak ada cap stempel jaksa penuntut umum dengan judul “Meminta perpanjangan penahanan” serta rincian lain yang menjelaskan fakta tentang tuduhan terhadap klienya.

Karajah mengungkapkan, penuntutan biasanya hanya mengajukan permohonan untuk memperpanjang penahanan ke pengadilan yang kompeten untuk terdakwa selama periode yang diperlukan, tanpa menjelaskan rincian fakta dan keadaan tuduhan, menunjukkan bahwa publikasi gambar bertentangan dengan prinsip kerahasiaan penyelidikan dengan terdakwa.

Ia menganggap kebocoran dokumen itu tidak benar, bertentangan dengan karakter klien dan melebihi pernyataan jaksa penuntut umum yang diumumkan pada 22 November lalu yang mengkonfirmasikan tentang komitmennya terhadap kerahasiaan investigasi untuk menjaga penyelidikan dan memastikan akses keadilan.

Share:

Comments

comments