Tabligh Akbar Medan, Syeikh Palestina: Al Aqsa Adalah Akidah Umat Islam

Spirit of Aqsa | Medan – “Baitul Maqdis dan Masjid Al-Aqsha bukan hanya milik orang Palestina, tapi milik umat Islam di seluruh dunia dan merupakan bagian dari akidah umat Islam”, ujar Syeikh Munzir, dai asal Palestina.

Hal itu disampaikan oleh Syeikh Munzir selaku anggota persatuan ulama Palestina diaspora kepada jamaah shalat Jum’at di Masjid Al Musannif, Medan (3/1/2020).

Tabligh Akbar yang bertajuk “Membasuh Luka Palestina” diikuti oleh ratusan jamaah diselenggarakan oleh Spirit of Aqsa (SoA) bekerja sama dengan Relawan Baitul Maqdis (RBM).

Syeikh meneruskan; “Kita bertanggungjawab secara idelogi, akidah dan agama menjaga Al-Aqsha dan menyelamatkannya dari cakar-cakar penjajah zionis. Ini kewajiban suci yang mencakup Masjid Al-Aqsha, Baitul Maqdis (Al-Quds) bahkan seluruh tanah Palestina. Sampai kapan kita terlambat dan abai sementara tiap saat kita tahu di bawahnya sudah digali oleh yahudi agar roboh untuk membangun kuil mitos mereka”.

Pada acara tersebut, syeikh juga menceritakan bagaimana kejahatan dan penistaan yang telah dilakukan penjajah zionis yaitu pembakaran masjid al Aqsa yang dilakukan oleh Zionis Radikal bernama Denis Michael Rohan.

Pembakaran Mimbar Shalahuddin

Diantara bagian yang terbakar terdapat mimbar Nuruddin yang dikenal dengan sebutan mimbar Shalahuddin. Sebuah mimbar yang bersejarah dan berdiri disana selama hampir 800 tahun.

Mimbar tersebut berada di dalam masjid Al-Qibli, yang pertama kali diletakkan usai penaklukan Al-Quds dari tentara Salib oleh Shalahuddin Al-Ayyubi, pada tahun 1187. Mimbar bersejarah itu hancur terbakar ketika peristiwa Agustus 1969 terjadi.

Mimbar ini sendiri dibuat pada masa Sultan Nuruddin Mahmud Zanky, tepatnya 19 tahun sebelum Shalahuddin berhasil menaklukkan Al-Quds. Namun, Ia wafat 13 tahun sebelum penaklukan bersejarah itu terjadi (1118-1174). Apa yang sudah dipersiapkan oleh Nuruddin ini kemudian dilanjutkan oleh Shalahuddin, dan dibawalah mimbar tersebut ke Al-Quds di tahun penaklukan 1187, untuk diletakkan di Masjid Al-Qibli dan menjadi mimbar utama Masjidil Aqsha. Para sejarawan kemudian banyak yang menyebutnya sebagai mimbar Shalahuddin.

Share:

Comments

comments