Puluhan Luka-Luka Akibat Tindakan Represif Polisi Israel di Al-Aqsa

Spirit of Aqsa, Palestina – Puluhan warga luka-luka dalam bentrok yang pecah antara warga Palestina dan pasukan pendudukan Israel di Masjid Al-Aqsa Ahad pagi, (2/6). Ini terjadi setelah pasukan IDF mengizinkan ribuan imigran ilegal IIsrael menodai Masjid Al-Aqsa.

Lembaga Wakaf Islam Palestina menjelaskan, kepolisian Israel membuka Gerbang al-Maghribi di Masjid Al-Aqsa lalu mengerahkan pasukan khusus IDF untuk melindungi penduduk Israel yang memaksa masuk ke Al-Aqsa.

Menurut keterangan saksi mata, dalam waktu satu jam, 400 imigran ilegal Israel sudah masuk ke dalam Masjid dan sampai berita ini diturunkan jumlah mereka bertambah menjadi 1179 orang.

Melihat hal ini, ratusan warga Palestina yang berada di dalam Masjid Al-Aqsa sejak sholat Subuh mulai bangkit dan meneriakkan takbir.

“Saat itu kami sedang menunaikan sholat Dhuha dan bertasbih, sampai kami dikejutkan dengan  pasukan khusus Israel dalam jumlah besar tiba-tiba mengepung kami. Mereka lalu memukuli kami tanpa sebab, ‘’ ujar seorang warga seperti dikutip Maannews.

Sementara itu, Anadolu Agency melaporkan bahwa pasukan pendudukan Israel menganiaya umat Islam yang berada di pelataran Masjid Al-Aqsa. Salah satunya adalah anggota tim keamanan Al-Aqsa, Khalil al-Tarhouni yang dipukul di kepala.

Umat Islam Palestina juga berupaya masuk Musholla Al-Qibli untuk melindungi diri, namun Kepolisian Israel kemudian menutup lokasi tersebut dengan rantai besi serta menembakkan puluhan bom suara dan gas air serta peluru karet ke dalam Musholla tersebut. Puluhan warga luka-luka dan 3 lainnya ditangkap.

Mufti Palestina, Syaikh Muhammad Hussein, mengatakan Pasukan pendudukan Israel memasang rantai besi di pintu Musholla Al-Qibli untuk mengepung umat Islam. “Tidak ada kata-kata yang dapat menggambarkan bengisnya serangan dan arogansi Israel terhadap rumah ibadah umat Islam paling suci ini.”

“Mereka melakukan penyerangan terhadap Masjid Al-Aqsa di 10 hari terakhir bulan suci Ramadhan lalu mengubah rumah ibadah ini menjadi barak militer. Meskipun demikian kami tidak akan meninggalkan Al-Aqsa. Kami akan terus menjaga Masjid al-Aqsa dan melindungnya hingga dibebaskan.”

Konfrontasi terjadi setelah Organisasi Haikal Sulaiman menyerukan warga Yahudi menyerbu Masjid Al-aqsa untuk memperingati hari pendudukan Yerusalem Timur yang di Israel dikenal dengan hari persatuan kota Al-Quds tahun 1967.

Serangan dan pelanggaran hukum yang dilakukan Israel terhadap kota suci Al-Quds dan warganya khususnya Masjid Al-Aqsa semakin masif sejak Presiden AS Donald Trump secara resmi mendeklarasikan bahwa Yerusalem atau Al-Quds ibukota bagi Israel 6 Desember 2017 lalu.

Langkah kontroverisal AS tersebut ditentang keras oleh PBB. Majelis Umum PBB dalam sidang darurat menetapkan sebuah resolusi dengan dukungan 128 negara bahwa status Al-Quds harus diselesaikan melalui perundingan langsung antara Palestina dan Israel, sesuai dengan resolusi Dewan Keamanan PBB.

Minggu lalu  Euro-Mediterranean Human Rights Monitor (Euro-Med) melaporkan bahwa Israel melakukan lebih dari 130 pelanggaran hukum terhadap rakyat Palestina di Al-Quds dalam bulan April.

Penjajah Israel tercatat telah menghancurkan 29 bangunan warga. Selain itu belasan bangunan lainnya juga terancam dibumiratakan, salah satunya adalah sekolah.

Menurut laporan Euro-Med, Israel menerapkan kebijakan rasis dan pelanggaran kemanusiaan untuk memaksa rakyat Palestina angkat kaki dari kota suci Al-Quds.

Share:

Comments

comments